TREND ISSUE HIV/AIDS, DEPRESI PADA PASIEN HIV/AIDS

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Depresi adalah suatu kondisi medis berupa perasaan sedih yang berdampak negatif terhadap pikiran, tindakan, perasaan, dan kesehatan mental seseorang . Kondisi depresi adalah reaksi normal sementara terhadap peristiwa-peristiwa hidup seperti kehilangan orang tercinta. Depresi juga dapat merupakan gejala dari sebuah penyakit fisik dan efek samping dari penggunaan obat dan perawatan medis tertentu. Dalam kaitannya dengan gangguan mental lain, depresi dapat juga menjadi gejala dari gangguan kejiwaan seperti  HYPERLINK "https://id.wikipedia.org/wiki/Gangguan_depresi_mayor" \o "Gangguan depresi mayor" Gangguan depresi mayor dan  HYPERLINK "https://id.wikipedia.org/wiki/Distimia" \o "Distimia" distimia .  Seseorang dalam kondisi depresi umumnya mengalami perasaan sedih, cemas, atau kosong; mereka juga cenderung merasa terjebak dalam kondisi yang tidak ada harapan, tidak ada pertolongan, penuh penolakan, atau perasaan tidak berharga. Gejala-gejala lain yang mungkin muncul adalah perasaan bersalah, mudah tersinggung, atau kemarahan. Lebih jauh, individu yang mengalami depresi dapat juga merasa malu atau gelisah. Selain perubahan suasana hati, individu dengan gejala depresi cenderung kehilangan minat untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang sebelumnya ia anggap menyenangkan; kehilangan napsu makan atau sebaliknya, makan dengan porsi berlebih. Penderita juga akan kesulitan untuk berkonsentrasi, mengingat detail-detail umum, membuat keputusan, ataupun mengalami kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain. Pengalaman-pengalaman ini dapat mendorong individu untuk mencoba  HYPERLINK "https://id.wikipedia.org/wiki/Bunuh_diri" \o "Bunuh diri" bunuh diri.  HYPERLINK "https://id.wikipedia.org/wiki/Insomnia" \o "Insomnia" Gejala Insomnia,  HYPERLINK "https://id.wikipedia.org/wiki/Hipersomnia" \o "Hipersomnia" Hipersomnia, kelelahan, kesakitan, gangguan pencernaan, dan stamina yang menurun juga kerap ditemukan pada individu dalam kondisi depresi. (https://id.wikipedia.org/wiki/Depresi_(psikologi))
Hasil penelitian menemukan bahwa jumlah kunjungan pasien HIV/AIDS pada periode Januari-September 2013 di poli VCT RSUP DR. M. Djamil adalah 49 orang dan 19 orang tidak mengalami depresi (44,2%) serta 24 orang depresi (55,8%). Dari yang mengalami depresi ada 19 orang laki-laki (79,2%) dan 5 orang perempuan (20,8 5).  Dari hasil penelitian derajat keparahan depresi pada penelitian didapatkan ialah mengalami gangguan depresi sebanyak 55,8% dengan pembagian depresi ringan 25,6%, depresi sedang 11,6%, depresi berat 4,7%, dan depresi sangat berat 14% sedangkan untuk bukan depresi sebanyak 44,2%. Unnikrishnan,dkk (2012) menyebutkan pasien HIV/AIDS yang mengalami depresi sebanyak 20-39% (5) Kurang maksimalnya pemanfaatan pelayanan poli VCT dan dukungan dari masyarakat dapat menyebabkan tingginya angka depresi.
Penyebabnya bisa dikarenakan faktor psikologisnya ataupun efek dari agen HIV yang sudah menginfeksi sistem saraf pusat. Perjalanan penyakit HIV/AIDS yang progresif, penyebarannya yang luas dan cepat serta adanya stigma dan diskriminasi pada pasien HIV/AIDS dapat menimbulkan stres pada penderitanya. Bila gangguan psikologis ini tidak ditatalaksana dengan baik, maka besar kemungkinan seseorang yang mengalami HIV/AIDS mengalami depresi. (Wahyu, 2012)
Menurut Green dan Setyowati, selain dapat mengakibatkan kematian, HIV dan AIDS juga memunculkan berbagai masalah psikologis seperti ketakutan, keputusasaan yang disertai dengan prasangka buruk dan diskriminasi dari orang lain, yang kemudian dapat menimbulkan ketakutan psikologis. 13 Salah satu jenis tekanan psikologis utama yang sering terjadi pada penderita AIDS adalah depresi dengan gejala adanya perasaan sedih, putus asa, tidak berdaya, merasa rendah diri, merasa bersalah, merasa tidak berharga, keinginan untuk bunuh diri di saat penyakit semakin memberat seringkali terlintas pada sebagian penderita terutama mereka yang melihat kematian temannya yang disebabkan oleh AIDS, menarik diri dari pergaulan, memberikan ekpresi “pasrah”, sulit tidur, dan hilangnya nafsu makan (Kementerian kesehatan republik indonesia, 2011).

Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana dampak kehidupan sosial pada penderita HIV/AIDS ?
1.2.2 Bagaimana penderita HIV/AIDS bisa mengalami Depresi ?
1.2.3 Bagaimana peran perawat dalam menanggulangi penderita depresi pada HIV/AIDS?
1.2.4   Bagaimana pengobatan untuk depresi pada HIV/AIDS?

Tujuan
Mahasiswa mampu mengetahui dampak kehidupan sosial pada penderita HIV/AIDS
Mahasiswa mampu mengetahui penderita HIV/AIDS bisa mengalami depresi
Mahasiswa mampu mengetahui peran perawat dalam menanggulangi penderita depresi pada HIV/AIDS
Mahasiswa mampu mengetahui pengobatan untuk depresi pada HIV/AIDS

BAB II
PEMBAHASAN

Dampak Kehidupan Sosial Pada Penderita HIV/AIDS
Segala penyakit yang mungkin saja menyerang dan di derita oleh tubuh manusia tentunya mampu untuk memberikan dampak pada tubuh, baik itu dampak yang bersifat positif seperti demam sebagai respon tubuh terhadap sistem imun yang disuntikkan atau dampak negatif seperti mengalami beberapa gangguan yang tidak mengenakan. Penyakit HIV/AIDS dapat juga menimbulkan dampak sosial AIDS terhadap kehidupan pasien serta harapan hidup pasien HIV, beberapa diantaranya dapat seperti :
Di jauhkan dari kehidupan sosial dalam masyarakat
Dampak sosial AIDS yang pertama dan tentunya akan dialami oleh pasien HIV yakni menerima tindakan diskrimintaif dari pergaulan dalam masyarakat. Kurangnya pemahaman yang penuh akan penyakit AIDS dan dampaknya pada pasien HIV ini menyebabkan masyarakat cenderung menjauhi pasien AIDS, bukan hanya itu saja alasan utama tindakan ini dapat terjadi tetapi juga mereka takut akan tertular penyakit yang mungkin saja sedang dialami oleh tubuh pasien.

Menurunnya kepercayaan diri pasien HIV
Dampak sosial AIDS yang dialami oleh pasien yakni menurunnya kepercayaan dirinya untuk berada dalam satu tempat yang sama dengan orang lain yang mana tidak memiliki penyakit yang sama dengan apa yang di alaminya. Menurunnya kepercayaan diri pasien jika dibiarkan terus menerus akan menyebabkan kepribadiannya menjadi lebih tertutup terhadap orang dan lingkungan sekitar ia beraktivitas. Dengan memiliki kepribadian yang seperti ini para pasien akan menjadi sulit untuk didekati oleh orang-orang yang mencoba mengerti dan peduli terhadap mereka.

Renggangnya hubungan dalam keluarga dan orang terdekat
Seseorang yang baru didiangnosis jika tubuhnya telah terinfeksi virus sejak lama bahkan baru memasuki tahap akhir infeksi virus berupa timbulnya penyakit AIDS tentunya akan sangat mengguncang mentalnya. Akibat kurang siapnya ia akan kenyataan ini akan menyebabkan pasien HIV dan AIDS merasa berbeda dengan orang lain yang ada disekitarnya sehingga ia akan berusaha untuk mengucilkan dirinya dalam sebuah ruang gelap atau dalam sebuah kamar kosong yang hanya ada ia di dalamnya.
Beberapa dampak tentunya akan di alami oleh ODHA atau pasien HIV AIDS, biasanya dampak yang menyerang psikologis dan mental merupakan faktor penyebab utama mengapa tubuh yang telah terinfeksi dapat menjadi lebih parah karena biasanya ODHA hidup normal akan sulit untuk dilakukan akibat dampak HIV AIDS.
Melakukan konsultasi untuk mengatasi hal ini merupakan cara terbaik yang dapat di jalani oleh ODHA atau pasien HIV guna mendapatkan ketenangan diri. Dampak baik dari melakukan konsultasi berupa tubuh yang dapat menjadi lebuh kuat dalam mengatasi aktivitas virus karena dapat diketahui apabila jiwa dan pikiran seseorang sehat maka hal ini akan berdampak pada kondisi tubuh saat itu juga.
(https://dokteraids.com/dampak-sosial-aids)













2.2 Cara Penderita HIV/AIDS Bisa Mengalami Depresi
Berikut ini bagan penderita HIV/AIDS bisa mengalami depresi























2.3 Peran Perawat Dalam Menanggulangi Penderita Depresi Pada HIV/AIDS
Peran seorang perawat dalam mengurangi beban psikis seorang penderita AIDS sangatlah besar. Lakukan pendampingan dan pertahankan hubungan yang sering dengan pasien sehinggan pasien tidak merasa sendiri dan ditelantarkan. Tunjukkan rasa menghargai dan menerima orang tersebut. Hal ini dapat meningkatkan rasa percaya diri klien.
Perawat juga dapat melakukan tindakan kolaborasi dengan memberi rujukan untuk konseling psikiatri. Konseling yang dapat diberikan adalah konseling pra-nikah, konseling pre dan pascates HIV, konseling KB dan perubahan prilaku. Konseling sebelum tes HIV penting untuk mengurangi beban psikis. Pada konseling dibahas mengenai risiko penularan HIV, cara tes, interpretasi tes, perjalanan penyakit HIV serta dukungan yang dapat diperoleh pasien. Konsekuensi dari hasil tes postif maupun negatif disampaikan dalam sesi konseling. Dengan demikian orang yang akan menjalani testing telah dipersiapkan untuk menerima hasil apakah hasil tersebut positif atau negatif.
Mengingat beban psikososial yang dirasakan penderita AIDS akibat stigma negatif dan diskriminasi masyarakat adakalanya sangat berat, perawat perlu mengidentifikasi adakah sistem pendukung yang tersedia bagi pasien. Perawat juga perlu mendorong kunjungan terbuka (jika memungkinkan), hubungan telepon dan aktivitas sosial dalam tingkat yang memungkinkan bagi pasien. Partisipasi orang lain, batuan dari orang terdekat dapat mengurangi perasaan kesepian dan ditolak yang dirasakan oleh pasien. Perawat juga perlu melakukan pendampingan pada keluarga serta memberikan pendidikan kesehatan dan pemahaman yang benar mengenai AIDS, sehingga keluarga dapat berespons dan memberi dukungan bagi penderita.
Aspek spiritual juga merupakan salah satu aspek yang tidak boleh dilupakan perawat. Bagi penderita yang terinfeksi akibat penyalahgunaan narkoba dan seksual bebas harus disadarkan agar segera bertaubat dan tidak menyebarkannya kepada orang lain dengan menjaga perilakunya serta meningkatkan kualitas hidupnya. Bagi seluruh penderita AIDS didorong untuk mendekatkan diri pada Tuhan, jangan berputus asa atau bahkan berkeinginan untuk bunuh diri dan beri penguatan bahwa mereka masih dapat hidup dan berguna bagi sesama antara lain dengan membantu upaya pencegahan penularan HIV/AIDS.
2.4 Pengobatan Untuk Depresi Pada HIV/AIDS
Depresi pada HIV dapat disembuhkan dengan perubahan gaya hidup, terapi alternatif, dan/atau dengan obat. Banyak obat dan terapi untuk depresi dapat mengganggu pengobatan HIV Anda. Penyedia layanan kesehatan dapat membantu Anda memilih terapi atau kombinasi terapi yang paling sesuai untuk Anda. Jangan mencoba mengobati diri sendiri dengan  HYPERLINK "https://hellosehat.com/bahaya-minum-alkohol-setelah-minum-obat/" \o "Bahaya Mengonsumsi Alkohol Setelah Minum Obat" \t "_blank" alkohol atau narkoba karena hal ini dapat meningkatkan depresi dan menciptakan masalah tambahan.
Perubahan gaya hidup dapat memperbaiki depresi untuk sebagian orang. Hal ini meliputi:
Olahraga teratur
Peningkatan  HYPERLINK "https://hellosehat.com/depresi-akibat-kekurangan-sinar-matahari/" \o "Depresi? Bisa Jadi Anda Kekurangan Sinar Matahari" \t "_blank" paparan matahari
Pengendalian stress
Konseling
Peningkatan kebiasaan tidur





BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan  49 orang penderita HIV/AIDS yang mengunjungi poli VCT RSUP DR. M Djamil Padang pada periode Januari – September 2013 yang mengalami depresi sebanyak 24 orang (55,8%). Usia terbanyak mengalami depresi adalah pada usia 20 – 39 tahun (83,3%). Berdasarkan tingkat depresinya didapatkan: depresi ringan (45,8%), depresi sedang (20,8%), depresi berat (8,4%) dan depresi sangat berat (25%). 

3.2 Saran
1. Bagi tenaga pendidik, diharapkan dapat memberikan pendidikan atau penyuluhan tentang seks kepada masyarakat
2. Bagi masyarakat, agar dapat selalu menjaga keharmonisan dalam keluarga
3. Bagi penderita HIV/AIDS seharusnya jangan terlalu memikirkan tentang penyakitnya karena semuanya sudah terjadi sebaiknya berusaha lebih baik lagi dan meminta kesembuhan kepada Tuhan yang maha Esa
DAFTAR PUSTAKA

Wahyu S, Taufik, et al.,  Konsep Diri dan Masalah yang Dialami  Orang Terinfeksi HIV/AIDS, Konselor, 2012,  Vol.1, hal 1-12.
Unnikrishnan B, Jagganath V, Ramapuram  JT, Achappa B, Madi D, 2012. Study    of Depression and Its Associated Factors among Women Living with   HIV/AIDS in Coastal South India. Dalam (R. L. D. Machado,  M. Patel, dab J. Poudrier ed) ISRN AIDS, 2012, Vol.12.
HYPERLINK "https://hellosehat.com/pusat-kesehatan/hivaids/mengapa-gay-berisiko-hiv" https://hellosehat.com/pusat-kesehatan/hivaids/mengapa-gay-berisiko-hiv (diakses pada 8-09-2018 pukul 22.30)
HYPERLINK "https://www.dw.com/id/tentang-waria-hiv-aids-dan-odha/a-41485792" https://www.dw.com/id/tentang-waria-hiv-aids-dan-odha/a-41485792 (diakses pada 8-09-2018 pukul 22.30)
HYPERLINK "http://jurnal.fk.unand.ac.id/index.php/jka/article/view/99/94" http://jurnal.fk.unand.ac.id/index.php/jka/article/view/99/94 (diakses pada 8-09-2018 pukul 22.30)
HYPERLINK "https://www.scribd.com/doc/118482216/Pathway-Depresi" https://www.scribd.com/doc/118482216/Pathway-Depresi (diakses pada 11-09-2018 pukul 12.18)
  HYPERLINK "http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/12_AspekPsikososialAids.pdf/12_AspekPsikososialAids.html" http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/12_AspekPsikososialAids.pdf/12_AspekPsikososialAids.html (diakses pada 11-09-2018 pukul 12.18)



Komentar