TREND ISSUE HIV/AIDS PADA IBU RUMAH TANGGA
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) atau sindrom kegagalan kekebalan tubuh, merupakan kumpulan gejala atau penyakit yang disebabkan oleh menurunnya kekebalan tubuh akibat infeksi oleh virus HIV (Human Immunodeficiency Virus). AIDS merupakan tahap akhir dari infeksi HIV.( ASA, FHI, Depkes RI.,2008. Laporan Hasil Penelitian, Jakarta. ) Penyakit ini telah menjadi pandemic yang mengkhawatirkan masyarakat dunia, karena disamping belum ditemukan obat dan vaksin untuk pencegahan, penyakit ini juga memiliki “window periode” dan fase asimptomatik (tanpa gejala) yang relatif panjang dalam perjalanan penyakitnya. Hal tersebut diatas menyebabkan pola perkembangannya seperti fenomena gunung es (iceberg phenomena).
Salah satu masalah kesehatan yang menjadi isu penting bersama masyarakat dunia adalah penyakit Aquires Immmunodeficiency Syndrome (AIDS) yang disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV). Indonesia sebagai salah satu negara berkembang juga mengalami peningkatan jumlah penderita HIV dari tahun ke tahun dengan jumlah kumulatif dari tahun 2002 sampai dengan bulan Juni 2011 ada 26.483. Sebagian besar ditemukan pada kelompok heteroseksual 50,3 %, kelompok heteroseksual 3,3 %, perinatal 2,8 % (Dirjend PP & PL Kemenkes RI, 2011).
Kasus AIDS yang pertama dilaporkan di Amerika Serikat pada tahun 1981 terjadi pada pria homoseksual, begitu pula pada tahun 1983 ketika virus perantaranya ditemukan pada seorang gay yang menderita pembesaran kelenjar limfa. Oleh karena itu, pada awal munculnya sindroma ini, AIDS-CDC menamakan kumpulan gejala ini sebagai penyakit infeksi kaum gay atau GRID (Gay Related Infectious Disease). Kasus AIDS pertama di Indonesia adalah kasus AIDS yang terdeteksi pada seorang wisatawan Belanda di RS Sanglah, Denpasar. Pengakuan ini bermuatan politis, sekaligus mengukuhkan mitos (anggapan yang salah), yaitu: AIDS penyakit bule, AIDS dibawa dari luar negeri, dan AIDS penyakit homoseksual.
Kita sebagai perawat harus memberikan solusi kepada waria yaitu dengan cara memberikan edukasi bahwa waria harus berdaya guna, berpendidikan, bekerja secara halal, dan tidak melacurkan diri di jalan-jalan. Sekitar tahun 1989, yakni pada saat penyebaran virus HIV dan AIDS mulai merajalela tanpa ada yang bisa membendung, Thailand memberikan satu solusi dengan mensosialisasikan penggunaan kondom yang kemudian diimplementasikan di beberapa negara Asia, seperti Kamboja, Vietnam, China, Myanmar, Philipina, Mongolia dan Republik Laos. Program ini dinilai cukup berhasil untuk menekan jumlah kasus HIV dan AIDS (Laksana, 2010).
Rumusan Masalah
Bagaimana cara WTS waria bisa tertular HIV AIDS?
Bagaimana cara menanggulangi WTS waria tidak terkena HIV AIDS?
Apa peran perawan dalam mencegah WTS waria tidak terkena HIV AIDS?
Bagamaina cara pengobatan HIV AIDS?
Tujuan
Mahasiswa mampu mengetahui cara WTS waria bisa tertular HIV AIDS
Mahasiswa mampu mengetahui cara penanggulangan WTS waria tidak terkena HIV AIDS
Mahasiswa mampu mengetahui peran perawat dalam mencegah WTS waria tidak terkena HIV AIDS.
Mahasiswa mampu mengetahui cara pengobatan HIV AIDS
BAB II
PEMBAHASAN
Cara WTS Waria Tertular HIV AIDS
Perubahan trend penderita HIV/AID seringkali berubah, tergantung yang sedang marak. Di tahun 2011 penularan penyakit berbahaya itu lebih dominan disebabkan injection user (pengguna jarum suntik). Sedangkan di awal tahun 2012, perubahan trend beralih ke soal free sex (seks bebas). Populasi rawan resiko adalah populasi yang mempunyai prilaku resiko tinggi terhadap penularan HIV dan AIDS yaitu penjaja seks, pelanggan penjaja seks, pasangan tetap dari penjaja seks, populasi lain dari pria berhubungan seks dengan pria, warga binaan pemasyarakatan, anak jalanan, pengguna napza suntik yang tidak menggunakan jarum suntik steril. (KPA Kota Bekasi, 2012.Laporan Kasus HIV/AIDS Tahun 2012. Bekasi)
Penularan hiv aids terhadap waria biasanya melalui seks anal lebih besar 18% dibanding dari penetrasi vagina jaringan pada lubrikan alamiah pada anus dan vagina itu sangat berbeda karena lapisan pada vagina dapat menahan infeksi virus, sedangkan anus memiliki lapisan tipis saja, selain itu anus juga tidak memproduksi lubrikan alami seperti vagina sehingga kemungkinan terjadinya luka atau lecet ketika penitrasi anal di lakukanpun lebih tinggi. Luka inilah yang bisa menyebabkan infeksi HIV . Infeksi HIV juga bisa terjadi kontak cairan rektal pada anus karena anus memiliki banyak sel imun sehingga HIV mudah melakukan leplikasi atau penggandaan diri. (Herlani, Rrianti & Widjanarko 2016). Menunjukkan 43 % pria yang sering melakukan seks secara anal sama sekali tidak menggunakan kondom karena mereka mengira pasangan seksual mereka sehat dan bebas dari penyakit. (KPA, 2011)
Kasus HIV sebagai penyakit gay, banyak yang merasa takut untuk memeriksakan diri ke tenaga kesehatan padahal beberapa hari setelah terinfeksi HIV, pasien akan masuk tahap infeksi akut dimana virus ini dengan mudah menyebar (WHO, 2013) Risiko penularan HIV lewat seks anal Seks anal menjadi pilihan yang umum bagi pasangan gay, meskipun banyak juga pasangan beda jenis yang mempraktikkan seks anal. Sebuah penelitian yang dimuat dalam International Journal of Epidemiology mengungkapkan bahwa tingkat risiko penularan HIV lewat seks anal lebih besar 18% dari penetrasi vagina. Pasalnya, jaringan dan lubrikan alamiah pada anus dan vagina sangat berbeda. Vagina memiliki banyak lapisan yang bisa menahan infeksi virus, sementara anus hanya memiliki satu lapisan tipis saja. Selain itu, anus juga tidak memproduksi lubrikan alami seperti vagina sehingga kemungkinan terjadinya luka atau lecet ketika penetrasi anal dilakukan pun lebih tinggi. Luka inilah yang bisa menyebarkan infeksi HIV.(Hallosehat.com)
Infeksi HIV juga bisa terjadi jika ada kontak dengan cairan rektal pada anus. Cairan rektal sangat kaya akan sel imun, sehingga virus HIV mudah melakukan replikasi atau penggandaan diri. Cairan rektal pun menjadi sarang bagi HIV. Maka, jika pasangan yang melakukan penetrasi telah positif mengidap HIV, virus ini akan dengan cepat berpindah pada pasangannya lewat cairan rektal pada anus. Tak seperti vagina, anus tidak memiliki sistem pembersih alami sehingga pencegahan infeksi virus lebih sulit dilakukan oleh tubuh.(hallosehat.com)
Berikut ini bagan cara WTS waria tertular HIV AIDS
Cara Menanggulangi WTS Waria Tidak Terkena HIV AIDS
Strategi Pemerintah terkait dengan Program Pengendalian HIV-AIDS dan PIMS
Meningkatkan penemuan kasus HIV secara dini :
a. Daerah dengan epidemi meluas seperti Papua dan Papua Barat, penawaran tes HIV perlu dilakukan kepada semua pasien yang datang ke layanan kesehatan baik rawat jalan atau rawat inap serta semua populasi kunci setiap 6 bulan sekali.
b. Daerah dengan epidemi terkonsentrasi maka penawaran tes HIV rutin dilakukan pada ibu hamil, pasien TB, pasien hepatitis, warga binaan pemasyarakatan (WBP), pasien IMS, pasangan tetap ataupun tidak tetap ODHA dan populasi kunci seperti WPS, waria, LSL dan penasun.
c. Kabupaten/kota dapatmenetapkan situasi epidemi di daerahnya dan melakukan intervensi sesuai penetapan tersebut, melakukan monitoring & evaluasi serta surveilans berkala.
d. Memperluas akses layanan KTHIV dengan cara menjadikan tes HIV sebagai standar pelayanan di seluruh fasilitas kesehatan (FASKES) pemerintah sesuai status epidemi dari tiap kabupaten/kota.
e. Dalam hal tidak ada tenaga medis dan/atau teknisi laboratorium yang terlatih, maka bidan atau perawat terlatih dapat melakukan tes HIV.
f. Memperluas dan melakukan layanan KTHIV sampai ketingkat Puskemas.
(Program Pengendalian HIV AIDS dan PIMS Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama, dipkes hal 4)
2. Penerapan Permenkes No. 21 tahun 2013 tentang Penanggulangan HIV dan AIDS
1. Penerapan KTHIV di seluruh FASKES.
2. Tes HIV masuk dalam Standar Pelayanan Medis (SPM) seperti tes laboratorium lainnya, sesuai Permenkes No 37 tahun 2012 tentang Penyelenggaran Laboratorium Pusat Kesehatan Masyarakat beserta lampirannya.
3. Pada daerah dengan tingkat epidemi meluas tes HIV ditawarkan pada semua pasien yang berkunjung ke FASKES sebagai bagian dari standar pelayanan.
4. Pada daerah dengan tingkat epidemi terkonsentrasi tes HIV ditawarkan pada semua ibu hamil, penderita TB, penderita hepatitis, penderita IMS, pasangan ODHA dan populasi kunci
5. Persetujuan tes dari pasien cukup dilakukan secara lisan (tidak perlu tertulis).
6. Pasien diperkenankan menolak tes HIV. Jika pasien menolak, maka pasien diminta untuk menandatangani surat penolakan tes secara tertulis.
( HYPERLINK "http://siha.depkes.go.id/portal/files_upload/BUKU_3_PENGENDALIAN_HIV_COLOR_A5_15x21_cm.pdf" http://siha.depkes.go.id/ )
Tabel Temuan analisis kebijakan perilaku penggunaan kondom untuk pencegahan HIV pada pekerja seks waria di Kota Bekasi Tahun 2014
ANALYSIS OF
ANALYSIS FOR
Isi kebijakan
1. Kebijakan penggunaan kondom untuk pencegahan HIV dan AIDS diutamakan pada kelompok masyarakat berperilaku risiko tinggi tetapi harus memperhatikan kelompok masyarakat yang rawan, termasuk yang berkaitan dengan pekerjaannya dan kelompok marjinal terhadap penularan HIV dan AIDS.
2. Kebijakan monitoring dan evaluasi (monev) terhadap distribusi kondom khususnya melalui outlet kondom di lokalisasi
3. Kebijakan pencegahan yang efektif pada sub populasi resiko tinggi khususnya pekerja seks waria melalui promosi kondom bertujuan untuk memutus rantai penularan HIV
4. Monitoring dan evaluasi terhadap kualitas kondom yang telah didistribusikan
5. Kebijakan dalam pemberdayaan masyarakat sebagai upaya menurunkan perilaku berisko pada waria
Implementasi kebijakan
1. Upaya penggunaan kondom secara konsisten pada semua pekerja seks waria untuk pencegahan HIV dan AIDS diutamakan pada kelompok masyarakat berperilaku risiko tinggi tetapi harus memperhatikan kelompok masyarakat yang rawan, termasuk yang berkaitan dengan pekerjaannya dan kelompok marjinal terhadap penularan HIV dan AIDS
2. Upaya pelaksanaan pengukuran monitoring dan evaluasi (monev) terhadap distribusi kondom khususnya melalui outlet kondom di lokalisasi
3. Upaya pencegahan yang efektif pada sub populasi resiko tinggi khususnya pekerja seks waria melalui promosi kondom bertujuan untuk memutus rantai penularan HIV
4. Upaya pelaksanaan monitoring dan evaluasi terhadap kualitas kondom yang telah didistribusikan
5. Upaya pelaksanaan pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan yang lebih produktif
6. Upaya dalam program komunikasi, informasi, dan edukasi pencegahan infeksi HIV yang lebih efektif melalui media massa, LSM peduli AIDS, organisasi masyarakat, lembaga pendidikan dan sektor swasta secara berkala
7. Upaya pelaksanaan konseling dan tes HIV khususnya bagi populasi rawan dan populasi resiko tinggi
8. Upaya penguatan koordinasi antar agen pelaksana dan koordinasi program yang dijalankan dengan adanya pertemuan rutin (rapat) secara berkala minimal 3 bulan sekali antar pelaksana
Kinerja (hasil) kebijakan
Hasil dicapai untuk ke delapan jenis tersebut belum maksimal dan tidak tertuang dalam kebijakan yang ada (Perda No. 03 Tahun 2009) dan perlu peningkatan atau maksimalisasi untuk semua komponen yang disampaikan
Lingkungan kebijakan
Demikian halnya dengan lingkungan terhadap implementasi dan hasil kebijakan ini belum seluruhnya kondusif akibat kurangnya koordinasi yang baik antar berbagai pihak yang berkepentingan demi terselenggaranya kebijakan diatas.
Evaluasi Kebijakan :
Belum terdapatnya kebijakan yang spesifik mengenai kelompok pekerja seks waria dalam hal penggunaan kondom secara konsisten dan bagaimana distribusi kondom melalui outlet kondom belum diatur dengan jelas di dalam Perda. Program-program untuk pencegahan HIV pada waria belum maksimal dikarenakan anggaran yang dialokasikan masih belum cukup.
Rekomendasi Alternatif Kebijakan :
Rekomendasi Term Of Reference (TOR) Program, Kegiatan, Anggaran Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS di Kota Bekasi
Sumber : Wawancara mendalam dan telaah dokumen kebijakan umum dan aturan terkait pencegahan dan penggulangan HIV/AIDS
2.3. Peran Perawat Dalam Mencegah WTS Waria Tidak Terkena HIV AIDS
1. Melakukan promosi kesehatan merupakan salah satu upaya yang sangat baik untuk dilakukan dalam pencegahan penularan penyakit HIV AIDS. Pormosi ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pencegahan penularan HIV AIDS dan mengurangi bahkan meniadakan stigma-stigma negatif tentang penderita HIV ADIS sehingga tidak ada deskriminasi dalam kehidupan bermasyarakat. Beberapa Dukungan Pemerintah Untuk Perawat Dalam Melakukan Promosi & Preventif Pencegahan HIV AIDS di Masyarakat yaitu:
Adanya dasar hukum yang kuat agar perawat bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Sehingga tidak ada rasa takut ketika memberikan pelayanan kesehatan terkait HIV AIDS
Mengadakan pendidikan atau pelatihan khusus untuk HIV ADIS. Dengan adanya pendidikan dan pelatihan khusus ini akan membuat perawat lebih mudah dalam memberikan pelayanan, penyuluhan, dan bahkan menjadi konsultan penderita HIV AIDS
Memberikan tunjangan khusus dalam memberikan pelayanan kesehatan dan kegiatan promosi pencegahan HIV AIDS. Dalam kegiatan ini, bukan semata-mata tujuan mareti dalam bentuk uang yang dicari. Akan tetapi, melakukan penyuluhan terhadap penderita HIV AIDS memiliki resiko sangat tinggi daripada seorang anggota dewan DPR yang bepergian kepelosok untuk meninjau hasil kerja suatu daerah. Ketika dalam suatu masyarakat ada penderita HIV AIDS maka orang tersebut secara tidak langsung akan dikucilkan. Dari sinilah, kedekatan seorang perawan dengan masyarakat yang sudah terjalin bisa menjadi jembatan emas akan pentingnya memberikan kesadaran kepada masyarakat dan penderita HIV AIDS tentang penyakit HIV AIDS itu sendiri
Membuat LSM atau lembaga penelitian AIDS/HIV
Advokasi KIE (komunikasi-informasi dan edukasi) lewat website atau internet
Mengadakan pelatihan atau seminar publik
Menjaring tokoh perawat Indonesia dalam penanggulangan AIDS/HIV agar masyarakat lebih mengenal keperawatan lebih maju dan modern
Mengoptimalkan pemanfaatan dana hibah lewat bidang keperawatan AIDS/HIV
( HYPERLINK "http://www.infoperawatindonesia.com" www.infoperawatindonesia.com)
Cara Pengobatan HIV/AIDS
Meskipun tingkat prevalensi HIV cukup tinggi, ada beberapa bukti yang menunjukkan adanya kesenjangan pengobatan antara waria yang hidup dengan HIV/AIDS. Sebuah studi empat kota yang dilakukan oleh National Institute of Mental Health’s (NIMH) Healthy Living Project menemukan bahwa waria lebih kecil kemungkinannya untuk menerima terapi antiretroviral dibandingkan dengan kelompok kontrol laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki (LSL)/gay, perempuan heteroseksual dan laki-laki, dan laki-laki pengguna obat intravena/Intravenous Drug Users (IDU) (Melendez, et al, 2008).
Sedangkan program pengobatan dan perawatan terhadap ODHA meliputi penyediaan fasilitas pelayanan pengobatan perawatan dan laboratorium untuk kasus IMS, HIV/AIDS, klinik VCT, kebijakan tentang pembiayaan pengobatan ODHA, kebijakan tentang Pembiayaan Obat ARV, Infeksi Opportunistik dan IMS, serta manajemen kasus HIV/AIDS yang dilaksanakan dalam koordinasi Dinas Kesehatan, Rumah Sakit dan LSM Peduli AIDS. Orang yang pertama kali memulai pengobatan ARV akan diberikan ARV lini pertama dan akan pindah ke lini kedua jika dalam periode tertentu tidak terdapat perubahan signifikan terhadap kondisi pasien. Agar obat bekerja dengan baik, harus dikonsumsi dengan semestinya.Keberhasilan terapi dapat dilihat dari tanda-tanda klinis pasien yang membaik setelah terapi, salah satunya dengan infeksi oppurtunistik tidak terjadi.
Meskipun sampai saat ini belum ada obat untuk menyembuhkan HIV, namun ada jenis obat yang dapat memperlambat perkembangan virus. Jenis obat inilah yang disebut dengan antiretroviral (ARV). ARV bekerja dengan menghilangkan unsur yang dibutuhkan virus HIV untuk menggandakan diri, dan mencegah virus HIV menghancurkan sel CD4. Beberapa jenis obat ARV, antara lain:
Efavirenz
Etravirine
Nevirapine
Lamivudin
Zidovudin
Selama mengonsumsi obat antiretroviral, dokter akan memonitor jumlah virus dan sel CD4 untuk menilai respons pasien terhadap pengobatan. Hitung sel CD4 akan dilakukan tiap 3-6 bulan. Sedangkan pemeriksaan HIV RNA dilakukan sejak awal pengobatan, dilanjutkan tiap 3-4 bulan selama masa pengobatan.
Pasien harus segera mengonsumsi ARV begitu didiagnosis menderita HIV, agar perkembangan virus HIV dapat dikendalikan. Menunda pengobatan hanya akan membuat virus terus merusak sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan risiko penderita HIV terserang AIDS. Selain itu, penting bagi pasien untuk mengonsumsi ARV sesuai petunjuk dokter. Melewatkan konsumsi obat akan membuat virus HIV berkembang lebih cepat dan memperburuk kondisi pasien.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Tren dan issue HIV/AIDS selama 10 tahun terakhir dapat disimpulkan bahwa di tahun 2011 penularan penyakit berbahaya itu lebih dominan disebabkan injection user (pengguna jarum suntik). Sedangkan di awal tahun 2012, perubahan trend beralih ke soal free sex (seks bebas).
pada tahun 2017 yakni mereka yang terjangkit virus HIV ialah mayoritas berasal dari ibu rumah tangga yang ditularkan oleh suami. Total ada 18 kasus sementara di tahun sebelumnya pekerjaan yang rentang terkena penyakit menular adalah karyawan.
Waria memiliki persepsi sumber penularan HIV/AIDS yang dialaminya adalah karena faktor pekerjaan dan perilaku seks beresiko.Waria pernah mendapatkan dukungan dari berbagai pihak baik kelompok, petugas kesehatan dan pemerintah, selain dukungan waria juga memiliki pengalaman terdiskriminasi oleh keluarga dan masyarakat. Diskriminasi ini muncul bukan karena status HIV/AIDS namun karena identitas gender waria. Walaupun dalam keadaan terdiagnosis HIV/AIDS seluruh waria mengungkapkan masih memiliki semangat hidup yang ditunjukkan dengan adanya harapan dan keinginan untuk melanjutkan hidup. Seluruh waria juga mengungkapkan pernah memanfaatkan fasilitas kesehatan.
3.2 Saran
1. Bagi tenaga pendidik, diharapkan dapat memberikan pendidikan atau penyuluhan tentang seks kepada masyarakat khususnya pada waria
2. Bagi masyarakat, agar dapat selalu menjaga keharmonisan dalam keluarga
3. Pengelola pelayanan kesehatan perlu memfasilitasi kebutuhan waria dengan HIV/AIDS untuk dapat melakukan pemeriksaan kesehatan yang dapat lebih memperhatikan privasi mereka, seperti membuat ruangan pemeriksaan tersendiri bagi waria dan tidak membeda-bedakan bentuk pelayanan yang diberikan.
DAFTAR PUSTAKA
HYPERLINK "https://hellosehat.com/pusat-kesehatan/hivaids/mengapa-gay-berisiko-hiv" https://hellosehat.com/pusat-kesehatan/hivaids/mengapa-gay-berisiko-hiv (diakses pada 8-09-2018 pukul 22.30)
HYPERLINK "https://www.infoperawatindonesia.com/2017/05/peran-serta-perawat-dalam pencegahan.html" https://www.infoperawatindonesia.com/2017/05/peran-serta-perawat-dalam pencegahan.html (diakses pada 8-09-2018 pukul 22.30)
HYPERLINK "https://www.dw.com/id/tentang-waria-hiv-aids-dan-odha/a-41485792" https://www.dw.com/id/tentang-waria-hiv-aids-dan-odha/a-41485792 (diakses pada 8-09-2018 pukul 22.30)
HYPERLINK "http://siha.depkes.go.id/portal/files_upload/BUKU_3_PENGENDALIAN_HIV_COLOR_A5_15x21_cm.pdf" http://siha.depkes.go.id/portal/files_upload/BUKU_3_PENGENDALIAN_HIV_COLOR_A5_15x21_cm.pdf (diakses pada 8-09-2018 pukul 22.30)
HYPERLINK "http://jurnal.fk.unand.ac.id/index.php/jka/article/view/99/94" http://jurnal.fk.unand.ac.id/index.php/jka/article/view/99/94 (diakses pada 8-09-2018 pukul 22.30)
Laksana, Agung. 2010. Faktor-Faktor Risiko Penularan HIV/AIDS pada Laki-laki dengan Orientasi Seks Heteroseksual dan Homoseksual di Purwokerto. Jurnal Mandala of Health. Vol. 4, No. 2, hal 113. Purwokerto: Fakultas Kedokteran dan Ilmu-Ilmu Kesehatan, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto
HYPERLINK "https://www.alodokter.com/hiv-aids/pengobatan.html" https://www.alodokter.com/hiv-aids/pengobatan.html (diakses pada 9-09-2018 pukul 11.39)
Melendez, R., Exner, T., Ehrhardt, A., Dodge, B., Remien, R., Rotheram-Borus, M., et al. (2008). Health and health care among maleto-female transgender persons who are HIV positive. American Journal of Public Health, 95, 5- 7.doi:10.2105/AJPH.2004.042010Melendez, R. M., & Pinto, R. M. (2009). HIV prevention and primary care for transgender women in a community-based clinic. The Journal of the Association of Nurses in AIDS Care : JANAC, 20(5), 387–97. doi:10.1016/j.jana.2009.06.002
Komentar
Posting Komentar